Jumlah Sperma Pria di Dunia Makin Sedikit dari Tahun ke Tahun

Diposting oleh zhaly imoetz on Jumat, 25 Mei 2012

Jakarta, Anak adalah titipan Tuhan dan anugerah yang indah dalam sebuah perkawinan. Jika ada masalah dengan kesuburan, seringkali yang jadi kambing hitam adalah istri.

Tuduhan ini tidak selamanya benar karena sperma juga ikut andil dalam pembuahan. Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa jumlah sperma yang dihasilkan pria makin menurun dari tahun ke tahun.
 
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, jumlah rata-rata sperma pria adalah sebanyak 20 - 40 juta per mililiter tiap kali ejakulasi. Namun beberapa tahun belakangan jumlahnya terus mengalami penurunan.

Maraknya kasus sulit memiliki keturunan akhir-akhir ini ditemukan juga jawabannya oleh para ahli, jumlah sperma yang rendah pada kaum laki-laki.

Sinyal bahaya pertama kali diketahui pada tahun 1990-an lewat sebuah penelitian yang kontroversial di Denmark.

Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa jumlah sperma menurun drastis tiap tahun sehingga hanya tersisa sedikit sperma yang bisa dihasilkan seorang pria dalam waktu 50 tahun.

Penelitian ini bukan isapan jempol belaka. Dr Shanna Swan, ahli epidemiologi reproduksi di Mount Sinai School of Medicine di New York City menganalisis data yang digunakan dalam penelitian asal Denmark tersebut dan berujung hasil yang sama.

Swan menemukan bahwa jumlah sperma beberapa orang yang dianggap berada dalam usia prima dalam kehidupannya cukup rendah. Jumlah sperma laki-laki mengalami penurunan sebesar 1,5% di Amerika Serikat dan 3% di Eropa dan Australia.

Tahun 2011 lalu, Swan meneliti para pria di universitas dan perguruan tinggi di Rochester, New York. Ia menemukan bahwa 23% pria yang diteliti memiliki jumlah sperma yang rendah sampai-sampai sudah perlu menemui dokter kesuburan. Menurut Swan, kecenderungan ini diduga ada hubungannya dengan penggunaan bahan kimia.

"Bahan kimia banyak membanjiri produk rumah tangga. Ada 80.000 bahan kimia di sekitar kita, tapi hanya beberapa yang sudah teruji. Tidak diragukan lagi bahwa pestisida mengurangi jumlah sperma. Pertanyaannya adalah berapa banyak paparan yang diterima sehingga dapat menyebabkan kerusakan?" kata Swan seperti dilansir GlobalNews.ca, Kamis (24/5/2012).

Meskipun demikian, penurunan jumlah sperma secara global ini belum meresahkan beberapa pihak. Dr Bernard Robaire dari McGill University mengatakan bahwa bukan kuantitas yang lebih penting, melainkan kualitas sperma.

Menurutnya, ada kasus di mana pria dengan jumlah sperma yang sedikit dapat mendapatkan keturunan secara alami sementara pria dengan jumlah sperma yang lebih banyak justru tak kunjung dapat keturunan.

"Jika punya sperma sedikit namun sangat tinggi dalam kualitasnya, maka DNA-nya tidak akan rusak. Sperma ini bisa membuahi dan mengenali sel telur," kata Dr Robaire.

Para ilmuwan tidak mungkin dapat memperbaiki kerusakan yang diakibatkan paparan bahan kimia ini. Tetapi ilmuwan berupaya menemukan cara untuk mengatasi kemandulan dengan teknologi.

Lewat bayi tabung, ilmuwan dapat memungkinkan pria dengan jumlah sperma yang rendah untuk memiliki keturunan dari istrinya.

sumber:woliop.detik.com

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar